Selasa, 25 November 2014

Aliran Filsafat Pendidikan..Tugas Biologi juga...

Tugas 1
Pandangan Berbagai Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan
Terhadap Kurikulum dan Metode Pendidikan
Yang Berlaku Di Sekolah
Oleh: Rusdianto Nurman
              Aliran-aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan dalam dunia pendidikan. Sedangkan, kurikulum  pendidikan adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam  mewujudkan tujuan-tujuan  pendidikan. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu berupa pengetahuan, informasi-informasi, data-data, aktivitas-aktivitas dan pengalaman-pengalaman sehingga terbentuk kurikulum tersebut.
              Berikut ini gambaran mengenai pandangan berbagai aliran-aliran pendidikan terhadap kurikulum yang berlaku disekolah:
  1. Aliran  Progresivisme
Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak. Tujuan pendidikan dalam aliran ini adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja secara sistematis, mencintai kerja, dan bekerja dengan otak dan hati. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan harusnya merupakan pengembangan sepenuhnya bakat dan minat setiap anak.
Kurikulum pendidikan Progresivisme adalah kurikulum yang berisi pengalaman-pengalaman atau kegiatan-kegiatan belajar yang diminati oleh setiap peserta didik (experience curriculum). Metode pendidikan Progresivisme antara lain:
  1. Metode belajar aktif.
  2. Metode memonitor kegiatan belajar.
  3. Metode penelitian ilmiah
  1. Aliran  Esensialisme
Menurut esensialisme nilai-nilai yang tertanam dalam nilai budaya/sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun dan di dalamnya berakar gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu. Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas.
Tujuan pendidikan dari aliran ini adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu dan dengan demikian adalah berharga untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh ketrampilan. Keterampilan, sikap-sikap dan nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti (esensial) dari sebuah pendidikan Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang tinggi, pengembangan intelek atau kecerdasan.
Kurikulum berpusat pada mata pelajaran yang mencakup mata-mata pelajaran akademik yang pokok. Kurikulum sekolah dasar ditekankan pada pengembangan ketrampilan dasar dalam membaca, menulis, dan matematika.Sedangkan kurikulum pada sekolah menengah menekankan pada perluasan dalam mata pelajaran matematika, ilmu kealaman, serta bahasa dan sastra. Metode pendidikan Esensialisme antara lain:
  1. Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered).
  2. Peserta didik dipaksa untuk belajar.
  3. Latihan mental
  1. Aliran  Rekonstruksionalisme
Rekonstruksionalisme memandang pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung terus dalam hidup. Sekolah yang menjadi tempat utama berlangsungnya pendidikan haruslah merupakan gambaran kecil dari kehidupan sosial di masyarakat. Sekolah-sekolah berfungsi sebagai lembaga utama untuk melakukan perubahan sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat.
 Tujuan pendidikan adalah membangkitkan kesadaran para peserta didik tentang masalah sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi umat manusia dalam skala global, dan mengajarkan kepada mereka keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
Kurikulum dalam pendidikan rekonstruksionalisme berisi mata-mata pelajaran yang berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan masyarakat masa depan. Kurikulum banyak berisi masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi umat manusia. Yang termasuk di dalamnya masalah-masalah pribadi para peserta didik sendiri, dan program-program perbaikan yang ditentukan secara ilmiah.
 
  1. Aliran  Perennialisme
Perennialisme adalah gerakan pendidikan yang mempertahankan bahwa nilai-nilai universal itu ada, dan bahwa pendidikan hendaknya merupakan suatu pencarian dan penanaman kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai tersebut. Guru mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di kelas. Diharapkan anak didik mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol seperti bahasa, sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam, dan lain-lainnya, telah banyak memberikan sumbangan kepada perkembangan zaman dulu.
Kurikulum  yang digunakan pada aliran perennialisme berpusat pada mata pelajaran dan cenderung menitikberatkan pada sastra, matematika, bahasa dan sejarah.
  1. Aliran  Idealisme
Pola pendidikan yang diajarkan fisafat idealisme berpusat dari idealisme. Pengajaran tidak sepenuhnya berpusat dari anak, atau materi pelajaran, juga bukan masyarakat, melainkan berpusat pada idealisme. Maka, tujuan pendidikan menurut paham idealisme terbagai atas tiga hal, tujuan untuk individual, tujuan untuk masyarakat, dan campuran antara keduanya.
Tujuan pendidikan idealisme bagi kehidupan sosial adalah perlunya persaudaraan sesama manusia. Karena dalam spirit persaudaraan terkandung suatu pendekatan seseorang kepada yang lain. Seseorang tidak sekadar menuntuk hak pribadinya, namun hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya terbingkai dalam hubungan kemanusiaan yang saling penuh pengertian dan rasa saling menyayangi.
Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan yang beraliran idealisme harus lebih memfokuskan pada isi yang objektif. Pengalaman haruslah lebih banyak daripada pengajaran yang textbook. Agar supaya pengetahuan dan pengalamannya senantiasa aktual.
6.                          6. Aliran Empirisme
Aliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembanganya ditentukan oleh pengalaman nyata melalui alat inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung.
Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan yang beraliran empirisme adalah kurikulum yang lebih banyak membuat anak untuk berbuat dan bergerak sehingga mereka mendapatkan pengalaman dari aktivitasnya. Sedangkan pengalaman didapatkan dari lingkungan atau dunia luar melalui indra, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak didik. Bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi perkembangan anak.
7.                          7. Aliran Nativisme.
Teori ini mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan baik dan buruk. Perkembangan anak hanya ditentukan oleh pembawaanya sendiri-sendiri. Lingkungan sama sekali tidak mempengaruhi apalagi membentuk kepribadian anak. Jika pembawaan jahat akan menjadi jahat, jika pembawaanyan baik akan menjadi baik. Jadi lingkungan yang diinginkan dalam perkembangan anak adalah lingkungan yang tidak dibuat-buat, yakni lingkungan yang alami.
Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan yang beraliran nativisme adalah kurikulum yang berinteraksi dengan lingkungan sosial dimana guru menjadi contoh yang patut ditiru dan sekolah menjadi lingkungan untuk berinteraksi.
                  8. Aliran Konvergensi.
Aliran konvergensi mengatakan bahwa faktor pembawaan, faktor lingkungan atau alamiah yang mempengaruhi terhadap perkembangan anak.oleh karena itu, kurikulum yang digunakan dalam pendidikan yang beraliran konvergensi merupakan  gabungan dari lingkungan dan kurikulum yang berisi pengalaman-pengalaman atau kegiatan-kegiatan belajar yang diminati oleh setiap peserta didik.
9.                         9. Aliran Naturalisme.
    Aliran ini mengatakan bahwa anak sejak lahir sudah memiliki pembawaan sendiri-sendiri baik bakat minat, kemampuan, sifat, watak dan pembawaan-pembawaan lainya. Pembawaan akan berkembang sesuai dengan lingkungan alami, bukan lingkungan yang dibuat-buat.
    Dengan kata lain kurikulum diartikan sebagai usaha sadar untuk mempengaruhi perkembangan anak seperti mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menghasilkan apalagi menjadikan anak kearah tertentu, maka usaha tersebut hanyalah berpengaruh jelek terhadap perkembangan anak. Tetapi jika kurikulum diartikan membiarkan anak berkembang sesuai dengan pembawaan dengan lingkungan yang tidak dibuat-buat (alami) maka pendidikan yang dimaksud terakhir ini berpengaruh positif terhadap perkembangan anak.
Sumber:
1.      Wahyudin, D.2007. Pengantar Pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional: Universitas Terbuka.
2.      http://12entinfujirahayu.wordpress.com/2011/05/16/aliran-aliran-pendidikan/

Rabu, 12 November 2014

TANAH



Tekstur dan Struktur Tanah
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif berbagai partikel tanah dalam suatu massa tanah terutama perbandingan antara pasir, debu dan lempung. Tekstur tanah sangat penting dalam kaitannya dengan kapasitas menampung air dan udara tanah. Tanah dengan proporsi partikel–partikel yang lebih besar dapat mempunyai tata air yang baik. Tanah yang halus biasanya memiliki potidak tersebar merata. Selain itu alirannya juga sangat lambat sehingga tidak menguntungkan bagi tumbuh-tumbuhan.
Struktur tanah adalah susunan atau pengikatan butir-butir tanah dan membentuk agregat tanah dalam berbagai kemantapan bentuk dan ukuran. Struktur tanah menyebabkan perbedaan tingkat  kemampuan tanah dalam meloloskan air (porositas) dan besar pori-pori antara butir-butir tanah (permeabilitas). Porositas dan permeabilitas mempengaruhi penyaluran air, unsur hara dan udara keseluruh bagian tanah.
Kaitan hubungan tekstur dan struktur tanah terhadap pertumbuhan tanaman sangat erat. Ada hubungan timbal balik antara komponen satu dengan komponen yang lainnya. Pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah.
Tanah Pasir
Tanah pasir merupakan media tanam yang kemampuan mengikat airnya sangat rendah. Tanah pasir ini memiliki diameter antara < 2 mm to > 0.05 mm, Terasa kasar dan Tidak kompak– kecuali jika basah. Dalam keadaan tanah yang memiliki tekstur yang dominan pasir, maka daya ikat tanah terhadap air serta bahan organik lainnya kecil. Tanah dengan tekstur dominan pasir ini cenderung mudah melepas unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Dalam keadaan tanah seperti ini, pertumbuhan akar tanaman akan berkembang dengan baik. Akar mudah untuk melakukan penetrasi ke dalam tanah. Drainase dan aerasi pada tekstur tanah dominan berpasir ini cukup baik, namun tekstur tanah ini cenderung mudah melepas unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Tanaman akan sulit mendapatkan unsur hara, dan pertumbuhan tanaman akan terganggu.
image4a 
Tanah Debu
Dapat membentuk bola yang teguh dapat sedikit digulung dengan permukaan yang mengkilat. rasa licin sekali, agak melekat. Ukurannya dengan diameter antara < 0.05 mm - > 0.002 mm. Daya simpan air lebih lebih besar dari tanah pasir  dan mudah terbawa aliran air

images.jpg silt-laden%20stream
Tanah Liat
Tanah liat merupakan tanah yang tergolongkan koloid dengan diameter kurang dari 0,002 mm. Dalam keadaan tanah yang dominan liat, akar pada tanaman akan sulit untuk melakukan penetrasi karena keadaan lingkungan tanah yang lengket pada saat basah dan mengeras pada saat kering. Drainase dan aerasi buruk, sehingga pertukaran udara maupun masuknya unsur hara pada akar tanaman akan terganggu. Pada keadaan basah, tanaman sulit mengikat gas-gas yang berguna bagi proses fisiologi karena pori-pori tanah yang kecil tergenang oleh air (kecuali tanaman padi yang mampu beradaptasi di lingkungan yang tergenang air). Air pada tanah dominan liat ini tidak mudah hilang. Tanaman dapat mengalami kematian, karena kurangnya unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman untuk melakukan proses-proses fisiologis yang semestinya.
175a 010624i
Untuk pertumbuhan tanaman yang baik, tanah  dengan aerasi, drainase, serta kemampuan menyimpan air maupun unsur hara yang baik harus memiliki komponen pasir, debu, dan liat yang seimbang. Sehingga tanaman mampu tumbuh dalam keadaan yang optimal.
SoilTexture_USDA.png
Selain tekstur tanah, faktor lain yang memiliki kaitan yang erat dengan pertumbuhan tanaman adalah struktur tanah. Pada struktur tanah, terdapat berbagai macam komponen yang dapat mempengaruhi tumbuhnya suatu tanaman. Tanah mengandung berbagai macam unsur-unsur makro maupun mikro yang berguna bagi tanaman. Dengan struktur tanah yang mantap (terdapat bahan organik yang cukup, mikroorganisme yang menguntungkan satu sama lain, dan pori-pori tanah cukup baik), maka aerasi (pertukaran O2, CO2, maupun gas-gas lainnya di dalam tanah) akan mampu mencukupi kebutuhan tanaman terhadap unsur-unsur tersebut. Sehingga, tanaman mampu melakukan proses metabolisme dengan baik. Pertumbuhan tanaman juga dipengaruhi oleh agregat tanah (daya ikat antara partikel-partikel dalam tanah
Akibat tanaman yang mengalami pertumbuhan tersebut, ternyata tanaman dapat menyebabkan terjadinya pembentukan struktur tanah. Dengan adanya tanaman, agregasi pada tanah akan terbentuk menjadi struktur yang lebih mantap. Tanaman mampu memperkecil kerusakan tanah akibat hujan, sehingga unsur hara dapat terjaga dan tersedia bagi tanaman maupun mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Akar tanaman mampu membentuk bidang belah alami pada tanah. Selain itu, akibat tekanan akar tersebut, butir-butir pada tanah akan semakin lekat satu sama lainnya. Daya ikat partikel-partikel tanah akan meningkat. Pada dasarnya, adanya sistem perakaran mempengaruhi pembentukan agregat di dalam tanah. Jika dibandingkan dengan tanah yang tidak ditumbuhi tanaman, agregatnya akan mudah pecah dan strukturnya cenderung tidak mantap.
Dari uraian tersebut, hubungan antara tekstur dan struktur tanah terhadap pertumbuhan tanaman saling berhubungan satu dengan lainnya. Tanpa adanya tekstur dan struktur tanah yang baik bagi tanaman, maka pertumbuhan tanaman kurang berjalan optimal. Sebab, terdapat faktor-faktor yang membatasi pertumbuhan tanaman akibat keadaan tekstur maupun struktur tanah yang kurang menguntungkan. Bila keadaan tekstur dan struktur tanah dalam keadaan mantap, maka faktor-faktor tersebut dapat diatasi. Selain itu, dengan adanya tanaman di atas tanah tampaknya mampu membantu pembentukkan struktur tanah. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya sistem perakaran yang terdapat di dalam tanah yang mampu membentuk bidang belah alami. Sehingga, daya ikat tanah semakin meningkat satu sama lainnya.
PH Tanah
Dalam ilmu pertanian pengaruh terhadap PH tanah sangat memiliki peranan yang sangat penting gunanya untuk Menentukan mudah tidaknya ion-ion unsur hara diserap oleh tanaman. Pada umumnya unsur hara akan mudah diserap tanaman pada pH 6-7, karena pada pH tersebut sebagian besar unsur hara akan mudah larut dalam air.
Derajat pH dalam tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman. Jika tanah masam akan banyak ditemukan unsur alumunium (Al) yang selain meracuni tanaman juga mengikat phosphor sehingga tidak bisa diserap tanaman. Selain itu pada tanah masam juga terlalu banyak unsur mikro yang bisa meracuni tanaman. Sedangkan pada tanah basa banyak ditemukan unsur Na (Natrium) dan Mo (Molibdenum).
Reaksi larutan tanah. Suatu hal lain yang penting mengenai larutan tanah ialah reaksinya yaitu apakah asam, netral atau basa. Larutan tanah asam jika jumlah ion H melebihi ion OH. Jika sebaliknya, reaksi basa. Sedangkan jika konsentrasi kedua ion itu sama dikatakan reaksinya netral.
Hubungan yang pasti, konsentrasi antara kedua ion itu diperhitungkan dengan konsentrasi ion H dan dinyatakan dengan istilah pH. Tanah dikatakan asam, jika pH-nya lebih kecil dari 7, netral jika sama dengan 7 dan basa jika pHnya diatas 7. Jadi, jika konsentrasi ion H dalam larutan naik, turunlah pH dan jika konsentrasi ion H dalam larutan turun, naiklah pH. Sebaliknya, Jadi, jika konsentrasi ion OH dalam larutan naik, naiklah pH sesuai dengan derajat kenaikannya.
Pengaruh Tanah Terhadap Pertumbuhan
Semasa pertumbuhan vegetatif, tanaman dipengaruhi oleh pH tanah (pH = tingkat keasaman). Pengukuran dan deteksi pH sangat penting karena membantu kita dalam mengambil tindakan.
Untuk menyiapkan tanah yang baik dan dapat menyerap pupuk secara optimal, diperlukan netralisasi tanah. Netralisasi bisa menggunakan campuran bahan kimia penetralisir seperti kapur dolomit dan lain-lain. Sebagian besar tanah di Indonesia bersifat asam (5.5 sampai 6), atau pH dibawah 7. Maka netralisasi tanah dilakukan dengan menaikan pH tanah mencapai pH 7 atau pH netral. Tapi pH 7 atau netral tidak selalu merupakan kondisi terbaik, ada beberapa tanaman yang tumbuh optimal di tanah yang bersifat sedikit asam atau sedikit basa.
Pengaruh tingkatan pH tanah terhadap tanaman adalah sebagai berikut:
-          pH dibawah 6 (terlalu asam) menyebabkan akar rusak sehingga kualitas dan jumlah panen turun. Terlihat pada saat perubahan tanaman dari fase vegetatif ke generatif.
-          pH 6 sampai 7 (rata-rata tanah di Indonesia) Terdapat unsur hara yang optimum untuk tanaman
-          pH diatas 7 Pada tingkatan ini, tanaman akan terlalu vegetatif. Hal ini tidak berpengaruh pada kualitas buah karena berada di musim yang tidak tepat.
Menaikan atau menurunkan pH tanah juga berguna untuk pengendalian penyakit, pH tanah diubah agar tidak sesuai dengan kebutuhan pathogen, biasanya untuk tanaman umbi-umbian seperti kentang


DAFTAR PUSTAKA


Buckman, Harry O. & Nyle C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Jakarta: PT. Bhrata Karya Aksara.

Ismail & Hartono. 2014. Fisiologi Tumbuhan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Wirakususmah, Sambas. 2003. Dasar-Dasar Ekologi Bagi Populasi dan Komunitas. Jakarta: UI Press.

Selasa, 11 November 2014

LAPORAN SIKLUS REPRODUKSI



A.  Dasar Teori
Pada hewan betina yang dewasa seksual dikenal adanya siklus reproduksi. Siklus reproduksi adalah siklus seksual yang terdapat pada individu betina dewasa seksual dan tidak hamil yang meliputi perubahan-perubahan siklik pada organ-organ reproduksi tertentu misalnya ovarium, uterus, dan vagina di bawah pengendalian hormon reproduksi. Siklus reproduksi meliputi antara lain siklus esterus, siklus ovarium, dan siklus menstruasi (Adnan, 2008).
Siklus reproduksi pada mamalia primate disebut siklus menstruasi, sedangkan siklus reproduksi pada non-primata disebut siklus estus. Siklus estrus ditandai dengan adanya estrus (birahi). Pada saat estrus, hewan betina reseptif terhadap hewan jantan, dan kopulasinya kemungkinan besar fertile sebab dalam ovarium sedang terjadi ovulasi dan uterusnya berada pada fase yang tepat untuk implantasi. Dari satu estrus ke estrus berikutnya disebut satu estrus. Panjang siklus estrus pada tikus mencit 4-5 hari, pada babi, sapi, dan kuda 21 hari, pada marmot 15 hari (Adnan dan Mu’nisa, 2013).
Siklus awal adalah sekitar 50 hari usia di kedua perempuan dan laki-laki, meskipun mungkin betina estrus pertama mereka pada 25-40 hari. Tikus rumah dan berkembang biak sepanjang tahun,  ovulasi spontan. Lamanya siklus estrus 4-5 hari dan estrus itu sendiri berlangsung sekitar 12 jam, terjadi di malam hari. Vagina sendiri  berguna dalam perkawinan waktunya untuk menentukan tahap siklus estrus.  Perkawinan biasanya terjadi pada malam hari dan dapat dikonfirmasi oleh kehadiran sebuah peluang sanggama di vagina hingga 24 jam pasca-sanggama. Kehadiran sperma pada vagina sendiri juga merupakan indikator yang dapat diandalkan kawin. Betina tikus ditempatkan bersama-sama cenderung masuk ke anestrus. Jika terkena laki-laki tikus, sebagian besar perempuan akan masuk ke estrus dalam waktu sekitar 72 jam  (Wikipedia, 2013).
Siklus estrus dibagi dalam beberpa tahap yaitu siestrus (anestrus), proestrus, estrus, dan metestrus. Tahap-tahap siklus dapat ditentukan dengan melihat gambaran gambaran sitology apusan vagina. Pada saat estrus apusan vagina memperlihatkan sel-sel epitel menanduk (Adnan dan Mu’nisa, 2013).
          Pada fase estrus yang dalam bahasa latin disebut oestrus yang berarti “kegilaan” atau “gairah”, hipotalamus terstimulasi untuk melepaskan gonadotropin-releasing hormone (GRH). Estrogen menyebabkan pola perilaku kawin pada mencit, gonadotropin menstimulasi pertumbuhan folikel yang dipengaruhi follicle stimulating hormone (FSH) sehingga terjadi ovulasi. Kandungan FSH ini lebih rendah jika dibandingkan dengan kandungan luteinizing hormone (LH) maka jika terjadi coitus dapat dipastikan mencit akan mengalami kehamilan. Pada saat estrus biasanya mencit terlihat tidak tenang dan lebih aktif, dengan kata lain mencit berada dalam keadaan mencari perhatian kepada mencit jantan. Fase estrus merupakan periode ketika betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan, mencit jantan akan mendekati mencit betina dan akan terjadi kopulasi. Pada kedua kasus ini ovulasi terjadi pada suatu waktu dalam siklus ini setelah endometrium mulai menebal dan teraliri banyak darah, karena menyiapkan uterus untuk kemungkinan implantsi embrio. Satu perbedaan antara kedua siklus itu melibatkan nasib kedua lapisan uterus jika kehamilan tidak terjadi. Pada siklus mnestruasi endometrium akan meluruh dari uterus melalui serviks dan vagina dalam pendarahan yang disebut sebagai menstruasi. Pada siklus estrus endometrium diserap kembali oleh uterus, dan tidak terjadi pendarahan yang banyak (Campbell, 2004).
Banyak hewan ketika berahi menjadi sangat aktif. Babi dan sapi pada saat berahi berjalan empat atau lima kali lebih banyak dibandingkan dengan sisa masa siklusnya. Aktivitas yang tinggi ini disebabkan oleh esterogen. Tikus yang berada di dalam kandang berlari secara spontan jauh lebih banyak ketika berahi dibandingkan selama diestrus (Nalbandov, 1990).
Pada species dengan siklus yang lebih panjang seperti wanita dan hewan domestikasi, akan mengalami keterlambatan satu sampai beberepa hari dari perubahan ovarium. Kecuali itu, betina dengan siklus panjang menunjukkan variasi individu yang sangat nyata dan menyebabkan aplikasi teknik apusan vagina kurang tepat dan kurang berguna (Nalbandov, 1990).
Fase menstruasi terjadi bila ovum tidak dibuahi sehingga tidak ada implantasi. Tidak adanya implantasi menyebabkan tidak terbentuknya plasenta. Tidak adanya plasenta menyebabkan tidak terbentuknya human chorionic gonadotrophin (hCG), sehingga tidak ada yang memelihara korpus luteum. Akibatnya korpus luteum berdegenerasi. Degenerasi korpus luteum menjadi korpus albican menyebabkan produksi progesteron menurun secara drastis hingga mencapai kadar yang tidak mempu mempertahankan penebalan endometrium. Akibatnya terjadi penyusutan dan peluruhan endometrium (Junqueiro dan Carneiro, 1982).
Puncak peristiwa siklus estrus adalah pecahnya folikel dan terlepasnya ovum dari ovarium. Pada sapi, 75% mengalami ovulasi 12 s/d 14 jam setelah berahi berakhir; yang lain mengalami ovulasi lebihawal, yaitu 2,5 jam sebelum berahi berakhir. Pada wanita akan mengalami ovulasi kira-kira hari ke 14 dari siklus. Pada beberapa hewan, variasi saat ovulasi tidak jelas. Hampir mayoritas kelinci tanpa memperhatikan bangsanya, ovulasiterjadi 10 s/d 11 jam setelah kopulasi atau sesudah injeksi dengan hormone yang mengindukdi ovulasi. Pada tikus dan mencit, panjang siklus dan saat ovulasi sangat konstan pada setiap macam strain (Nalbandov, 1990).
B.  Tujuan Praktikum
Diharapkan mahasiswa dapat:
1.    Membedakan sel-sel hasil apusan vagina
2.    Menentukan tahap siklus yang sedang dialami oleh hewan betina
C.  Prosedur Kerja
1.    Memasukkan pipet tetes yang sudah diusap alkohol 70% kedalam vagina mencit kira-kira sedalam ½ cm, lalu putar dengan hati-hati. Lalu menyemprotkan larutan NaCl 0,9% ke dalam vagina mencit dengan menggunakan pipet tetes yang halus. Menyemprotkan dan menyedot berulang kali hingga cairan di dalam pipet tampak keruh.
2.    Diatas kaca objek, mengoleskan pipet tetes tadi atau meneteskan sedikit cairan keruh dari pipet penyemprot.
3.    Meneteskan larutan metilen blue dalam larutan Nacl 0,9% keatas kaca objek tersebut membiarkan selama 3-5 menit.
4.    Membuang kelebihan zat warna, lalu membilas dengan aquades.
5.    Mengeringkan dan mengamati di bawah miksroskop
6.    Menentukan gambaran sitology apusan vagina dan tahap siklus reproduksinya seperti :
a.    Diestrus
b.    Proestrus
c.    Estrus
d.   Metestrus













D.  Hasil Pengamatan
1.    Fase Estrus
Gambar Pengamatan
Keterangan
Gambar Pembanding


1.    Sel epitel menanduk

2.    Fase Metestrus
Gambar Pengamatan
Keterangan
Gambar Pembanding


1.    Sel epitel menanduk
2.    Leukosit

3.    Fase Diestrus
Gambar Pengamatan
Keterangan
Gambar Pembanding


1.    Sel epitel menanduk yang belum terbongkar
2.    Leukosit
3.    Epitel berinti






4.    Fase Proestrus
Gambar Pengamatan
Keterangan
Gambar Pembanding


1.    Epitel berinti
2.    Leukosit



E.  Pembahasan
Pada saat praktikum berlangsung yang pertama kami lakukan adalah menyiapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan untuk memeriksa siklus reproduksi yang dialami oleh mencit betina. Mencit (Mus musculus), mempynyai empat fase estrus utama, namun pada praktikum yang telah kami lakukan, kami tidak menemukan fase proestrus. Akan tetapi, praktikan akan membahas fase proestrus menurut teori yang ada.
Adapun fase utaman dalam siklus reproduksi mencit betina yaitu:
1.    Fase estrus
Pada mencit I, pertama-tama kami memberikan perlakuan dengan mengusap vagina mencit dengan alkohol, kemudian memasukkan pipet tetes yang berisi NaCl 0,9%. Menyemprotkan dan menyedot berulang kali hingga cairan di dalam pipet tampak keruh, kemudian ketika mendapatkan cairan yang keruh kami letakkan di atas objek glass dengan menambahkan metilen blue dan kemudian diamati di mikroskop.
Hasil pengamatan yang kami lakukan bahwa mencit sedang mengalami fase estrus, dimana tampak adanya epitel menanduk yang banyak. Akan tetapi, tidak adanya kelihatan epitel berinti. Berdasarkan teori yang menyatakan bahwa Fase estrus, adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel menanduk yang sangat banyak, dan beberapa sel epitel dengan inti yang berdegenerasi. Lamanya fase ini kurang lebih 25 jam (Adnan, 2008).
2.    Fase Metestrus
Pada mencit II, pertama-tama kami memberikan perlakuan dengan mengusap vagina mencit dengan alkohol, kemudian memasukkan pipet tetes yang berisi NaCl 0,9%. Menyemprotkan dan menyedot berulang kali hingga cairan di dalam pipet tampak keruh, kemudian ketika mendapatkan cairan yang keruh kami letakkan di atas objek glass dengan menambahkan metilen blue dan kemudian diamati di mikroskop.
Hasil pengamatan yang kami lakukan bahwa mencit sedang mengalami fase metestrus, dimana tampak adanya epitel menanduk yang sedikit dengan leukosit yang banyak. Jadi sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa Fase metestrus adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel menanduk dan leukosit yang banyak. Lamanya fase ini kurang lebih 8 jam (Adnan, 2008).
3.    Fase diestrus
Pada mencit III, pertama-tama kami memberikan perlakuan dengan mengusap vagina mencit dengan alkohol, kemudian memasukkan pipet tetes yang berisi NaCl 0,9%. Menyemprotkan dan menyedot berulang kali hingga cairan di dalam pipet tampak keruh, kemudian ketika mendapatkan cairan yang keruh kami letakkan di atas objek glass dengan menambahkan metilen blue dan kemudian diamati di mikroskop. 
Hasil pengamatan yang kami lakukan bahwa mencit sedang mengalami fase diestrus, dimana tampak adanya epitel menanduk yang belum terbongkar, epitel berinti yang sedikit dan leukosit yang banyak. Berdasarkan dengan teori yang menyatakan bahwa Fase diestrus, adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel berinti dalam jumlah yang sangat sedikit dan leukosit dalam jumlah yang sangat banyak. Lamanya fase ini kurang lebih 55 jam (Adnan, 2008).
4.    Fase Proestrus
Pada mencit IV, pertama-tama kami memberikan perlakuan dengan mengusap vagina mencit dengan alkohol, kemudian memasukkan pipet tetes yang berisi NaCl 0,9%. Menyemprotkan dan menyedot berulang kali hingga cairan di dalam pipet tampak keruh, kemudian ketika mendapatkan cairan yang keruh kami letakkan di atas objek glass dengan menambahkan metilen blue dan kemudian diamati di mikroskop. 
Berdasarkan hasil pengamatan tampak adanya sel-sel epitwl berinti yang banyak dengan leukosit yang sediki. Sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa Fase proestrus adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-se epitel berintil berbentuk bulat, leukosit tidak ada atau sangat sedikit. Lamanya fase ini kurang lebih 18 jam (Adnan, 2008).
F.   Kesimpulan
             Dari hasil praktikum diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1.    Perbedaan dari tiap-tiap apusan vagina
a.       Pada fase Diestrus, kita dapat mengetahui ciri-ciri fase ini yaitu ditandai dengan adanya sel-sel epitel berinti dalam jumlah yang sangat sedikit dan sebaliknya leukosit dalam jumlah yang sangat banyak. Fase ini dikenal dengan masa istirahat karena ovarium dan alat kelamin luar tidak mengalami perubahan.
b.      Fase Proestrus merupakan fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel yang berinti berbentuk bulat, kemudian tidak memiliki leukosit atau ada namun hanya sedikit.
c.       Fase Estrus merupakan fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel menunduk yang sangat banyak, dan beberapa sel epitel dengan inti yang berdegenerasi.
d.      Fase Metestrus merupakan fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel menanduk dan memiliki leukosit yang banyak.
2.    Tahap-tahap siklus reproduki yang dialami adalah fase estrus, metestrus, dietrus dan proestrus.
G. Saran
 Saran untuk praktikum atau praktikan selanjutnya yaitu agar semua bahan yang diperlukan dalam melakukan praktikum ini hendaknya dilengkapi secepatnya. Selain itu, praktikan juga harus memperhatikan betul bagaimana cara-cara memasukkan pipet tetes dalam vagina mencit dan dipahami dengan baik supaya saat melakukan penyedotan tidak menyakiti hewan uji (mencit) tersebut. Serta menjaga kebersihan dalam ruangan.

DAFTAR PUSTAKA
Adnan dan Mu’nisa. 2013. Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Adnan. 2008. Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Campbell, Reece, dan Mitchel. 2004. Biologi Edisi 5 Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Junqueri, L. C. Dan Carnerio. J. 1980. Histologi Dasar. California: Lange Medical Publishing.
Nalbandov, V. V. 1990. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia Dan Unggas. Jakarta: Universitas Indonesia.
Wikipedia.2013. Mencit. http://id.wikipedia.org/wiki/Mencit. di akses pada tanggal 03 Desember  2013.

LAMPIRAN
Pertanyaan:
1.    Jelaskan hubungan antara siklus vagina, siklus uterus, dan siklus ovarium dalam kaitannya dengan siklus estrus!
2.    Hormon-hormon apakah yang berperan dalam mengatur siklus reproduksi pada manusia? Jelaskan pengaruh masing-masing hormon tersebut!
3.    Apakah beda siklus menstruasi dari siklus estrus?
Jawaban:
1.    Hubungan antara siklus vagina, siklus uterus, dan siklus ovarium dengan siklus estrus yaitu pada saat siklus estrus terjadi maka vagina, uterus dan ovarium akan mengalami perubahan-perubahan. Perubahan-perubahan itu antara lain: 1) Vagina, perubahan-perubahan yang berlangsung pada vagina meliputi perubahan histologi epitel yang tergambar pada saat dilakukan pengamatan apusan vagina. Epitel vagina secara siklik dirusak dan dibentuk kembali selama siklus, bervariasi dari bentuk skuama berlapis hingga kuboid rendah. 2) Uterus, Perubahan yang sangat nyata terjadi di endometrium dan kelenjarnya. Selama fase folikuler dari siklus estrus, kelenjar uterus sederhana dan lurus dengan sedikit cabang. Penampilan kelenjar uterus ini menandakan untuk stimulasi esterogen. Selama fase luteal, yakni saat progeteron beraksi terhadap uterus, endometrium bertambah tebal secara mencolok. Diameter dan panjang kelenjar meningkat secara cepat, menjadi bercabang-vabang dan berkelok-kelok. 3) Ovarium, Puncak peristiwa siklus estrus adalah pecahnya folikel dan terlepasnya ovum dari ovarium.
2.    Fungsi hormon yang berperan dalam mengatur siklus reproduksi pada manusia:
a.    Hormon GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormon) berfungsi menstimulasi hipofisis anterior untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin (FSH/LH).
b.    Hormon FSH (Follicle Stimullating Hormone) berfungsi Merangsang pematangan folikel dalam ovarium dan menghasilkan estrogen, mengendalikan ciri seksual pria & wanita (penyebaran rambut, pembentukan otot, tekstur & ketebalan kulit, suara dan bahkan mungkin sifat kepribadian)
c.    Hormon LH (Lutinizing Homone)/ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormon) erfungsi mempengaruhi pematangan folikel dalam ovarium dan menghasilkan progestron, mengendalikan fungsi reproduksi (pembentukan sperma & sementum, pematangan sel telur, siklus menstruasi.
d.   Hormon Estrogen berfungsi mengendalikan perkembangan ciri seksual & sistem reproduksi wanita, saat pembentukan kelamin sekunder wanita, seperti bahu mulai berisi, tumbuhnya payudara, pinggul menjadi lebar, dan rambut mulai tumbuh di ketiak dan kemaluan. Di samping itu, hormon enstrogen juga membantu dalam pembentukan lapisan endometrium.
e.    Progesteron berfungsi mempersiapkan lapisan rahim untuk penanaman sel telur yang telah dibuahi, mempersiapkan kelenjar susu untuk menghasilkan susu, menjaga penebalan endometrium, menghambat produksi hormon FSH, dan memperlancar produksi laktogen (susu).
f.     HCG (Human Chorionic Gonadotrophin) Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi hormon-hormon steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal.
g.    LTH (Lactotrophic Hormon) / Prolactin berfungsi untuk memicu / meningkatkan produksi dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum.
3.    Perbedaan siklus estrus dan msiklus menstruasi:
ü Hewan yang sedang estrus mengalami dorongan seksual yang sangat kuat namun singkat selama pertengahan masa estrus, tetapi tidak reseptif secara seksual di masa-masa lain; sementara reseptivitas seksual terjadi sepanjang siklus menstruasi.
ü Secara fisik, estrus mempersiapkan saluran reproduksi betina bagi kopulasi, sedangkan siklus menstruasi melibatkan persiapan yang amat rumit agar endometrium siap bagi implantasi sel telur yang terfertilisasi. Sebagai akibatnya, jika fertilisasi tidak terjadi, penebalan dinding uterus.
ü Apapun yang telah dipersiapkan pada hewan-hewan yang mengalami estrus akan diserap kembali; pada hewan-hewan yang mengalami menstruasi, pelapis-pelapis hipertrofik meluruh sebagai aliran darah menstruasi.
ü Peristiwa-peristiwa pada siklus estrus lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan daripada siklus menstruasi.
ü Waktu kawin, Pada hewan yang mengalami siklus estrue perkawinan hanya terjadi pada fase estrus saja sedangkan pada primata dan manusia yang mengalami siklus menstruasi perkawinan dapat terjadi kapan saja.